Waspada Ancaman Iran, Trump Pilih Air Force One Lama untuk Pulang dari Turki
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih menggunakan pesawat Air Force One lama untuk kembali ke Washington dari Turki, alih-alih menggunakan pesawat baru yang dilengkapi teknologi mutakhir. Langkah ini diambil sebagai tindakan pengamanan tambahan di tengah meningkatnya tensi antara AS dan Iran. Trump sebelumnya menggunakan Air Force One baru saat berangkat ke Turki, namun setelah serangan AS ke Iran pada Selasa, keputusan untuk mengganti pesawat diambil atas permintaan Dinas Rahasia AS (Secret Service).
Momen Penentu di Tengah Konflik
Perubahan detail perjalanan kenegaraan ini berlangsung kala AS kembali berperang dengan Iran usai melancarkan serangan terbaru ke negara Islam itu di saat gencatan senjata pada Selasa. Sejumlah sumber Gedung Putih menuturkan pergantian pesawat sang presiden ini dilakukan atas permintaan Dinas Rahasia AS (Secret Service) sebagai langkah pengamanan menyusul perang AS-Iran memanas lagi. Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung membenarkan bahwa perubahan ini diperlukan terlebih ketika AS sedang berkonflik dan banyak “musuh” yang berusaha menjadikan presiden target serangan.
Saat meninggalkan Ankara, Trump menaiki pesawat lama dengan sangat cepat, bahkan sebelum para jurnalis yang ikut dalam rombongan sempat menyaksikan atau memotret dirinya menaiki tangga pesawat, sebagaimana biasanya. Seluruh penumpang di dalam pesawat juga diminta menutup tirai jendela sebelum lepas landas. Pesawat tersebut mendarat di Mildenhall pada Rabu malam, dan setelah itu Trump berpindah ke pesawat baru untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Washington.
Apa yang Membuat Keputusan Ini Diambil?
Menurut sumber-sumber yang mengetahui kemampuan pesawat baru tersebut, perubahan pesawat presiden dilakukan karena Air Force One yang baru belum memiliki seluruh kemampuan terutama soal keamanan yang dimiliki pesawat lama. Pesawat Air Force One lama secara luas diketahui dilengkapi sistem yang dirancang untuk membutakan rudal antipesawat yang datang, serta perangkat “chaff” yang dapat ditembakkan untuk mengelabui rudal dan mengalihkan lintasannya.
Keputusan mengganti pesawat saat Trump meninggalkan Turki merupakan langkah pencegahan atas saran Secret Service, bukan karena adanya ancaman keamanan yang spesifik. Trump sebelumnya menggunakan Air Force One baru saat terbang menuju Turki pada Senin malam. Namun setelah ia tiba, perang dengan Iran kembali memanas usai AS melancarkan serangkaian serangan ketika Trump sedang menghadiri KTT NATO di Ankara, sekitar 1.600 kilometer dari Iran.
Apa Artinya Ini bagi AS dan Dunia?
Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa dirinya merupakan target nomor satu Iran. Bahkan pada satu kesempatan ia menyebut telah melihat atau menerima pengarahan mengenai daftar target Iran dalam beberapa hari terakhir. “Seperti yang baru-baru ini disampaikan presiden, ada banyak musuh Amerika yang menjadikannya sebagai target. Karena itu kami menggunakan setiap cara yang kami miliki-termasuk pengalihan perhatian dan penyamaran-untuk menghadapi ancaman tersebut,” ucap Cheung.
Namun, Trump membantah bahwa pergantian pesawat dilakukan karena alasan keamanan. Ia mengatakan keputusan itu diambil agar pesawat baru dapat berangkat lebih awal dan singgah di sejumlah pangkalan militer AS untuk dipamerkan kepada para prajurit karena pesawat tersebut “luar biasa.”
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kini, AS dan Iran masih terlibat dalam konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Dengan meningkatnya tensi antara kedua negara, keamanan Presiden Trump dan warga AS menjadi prioritas utama. Penggunaan pesawat Air Force One lama sebagai tindakan pengamanan tambahan menunjukkan bahwa AS serius dalam menghadapi ancaman dari Iran. Dunia masih menantikan bagaimana situasi ini akan berkembang ke depannya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260709073632-134-1378588/waswas-ditarget-iran-trump-pulang-dari-turki-pakai-air-force-one-lama, without altering the facts of the original article.