Tim Dosen Lamandau Gencarkan Agrosilvopastura, Petani Lokal Terima Manfaat
Tim dosen di Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah, mengembangkan pupuk organik dari campuran limbah tanaman dan hewan sebagai pengembangan sistem agrosilvopastura. Pendekatan agrosilvopastura mengintegrasikan sektor kehutanan, pertanian, dan peternakan dalam satu sistem yang saling mendukung. Pengembangan ini bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bahan organik yang selama ini belum digunakan secara optimal.
Pengembangan Pupuk Organik
Ketua tim dosen, Firdaus Husein, menjelaskan bahwa bahan yang mereka gunakan adalah limbah dari peternakan sapi, kelapa sawit, tanaman, serta biochar. Biochar adalah hasil pembakaran limbah kelapa sawit dengan suhu 300 derajat Celcius yang kaya akan karbon. Penambahan biochar berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman.
Bersama anggota tim dosen, yaitu Ika Fitirani Dyah Ratnasari dan Erlina Astuti, kegiatan pengabdian kemitraan ini melibatkan masyarakat di Kelompok Tani Sumber Usaha Muda, Kabupaten Lamandau. Mereka mengajak petani untuk mengurangi ketergantungan pemakaian pupuk kimia yang digunakan secara terus-menerus. Limbah sawit yang digunakan seperti lumpur sawit dan tandan kosong kemudian dicampur kotoran sapi. Tim juga menambahkan mikroorganisme lokal dari kulit nanas sebagai pengurai.
Proses Pembuatan Pupuk Organik
Semua bahan itu lantas difermentasi selama 21 hari. Setelah 21 hari, bahan pupuk digranulasi dengan mesin ditambah dengan biochar dan tapioka. Pupuk organik yang dikembangkan tim peneliti ini telah melalui pengujian laboratorium. Hasil uji menunjukkan kandungan nitrogen 2,8 persen, kemudian fosfor 1,1 persen, dan kalium 3,56 persen. Nilai kandungan tiga unsur tersebut dinilai memadai untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus memperbaiki kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Mengapa Agrosilvopastura Penting?
Agrosilvopastura tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjaga fungsi ekologis kawasan hutan. Keberlanjutan pertanian harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan sambil menjaga aset ekologi hutan. Inovasi ini merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular di sektor pertanian. Limbah peternakan dan limbah perkebunan tidak lagi dipandang sebagai masalah lingkungan, tetapi menjadi sumber daya yang dapat diolah menjadi pupuk organik berkualitas.
Dampak dan Arah ke Depan
Dengan tambahan biochar, pupuk memiliki kemampuan lebih baik dalam memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, dan mengurangi kehilangan unsur hara. Kegiatan pengabdian ini juga diisi dengan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan Kalimantan. Tim dosen pun mengajarkan Kelompok Tani untuk beralih ke digitalisasi sebagai media untuk mendapatkan informasi yang cepat serta pemasaran produk pertanian untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Jalan panjang yang masih harus ditempuh adalah meningkatkan kesadaran dan kemampuan petani untuk mengadopsi teknologi ini secara luas.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://tekno.tempo.co/read/2110846/tim-dosen-di-lamandau-ajari-petani-praktik-agrosilvopastura, without altering the facts of the original article.