30 Juni 2026 Daerah 0 Views

Tim Dosen Lamandau Berhasil Ajarkan Petani Cara Efektif Agrosilvopastura

Tim dosen di Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah, telah berhasil mengembangkan pupuk organik dari campuran limbah tanaman dan hewan sebagai pengembangan sistem agrosilvopastura. Pendekatan agrosilvopastura ini mengintegrasikan sektor kehutanan, pertanian, dan peternakan dalam satu sistem yang saling mendukung. Dengan menggunakan limbah dari peternakan sapi, kelapa sawit, tanaman, serta biochar, tim dosen ini bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bahan organik yang selama ini belum digunakan secara optimal.

Proses Pembuatan Pupuk Organik

Proses pembuatan pupuk organik ini dimulai dengan mengumpulkan limbah dari peternakan sapi, kelapa sawit, dan tanaman. Limbah sawit yang digunakan seperti lumpur sawit dan tandan kosong kemudian dicampur kotoran sapi. Tim juga menambahkan mikroorganisme lokal dari kulit nanas sebagai pengurai. Semua bahan itu lantas difermentasi selama 21 hari. Setelah 21 hari, bahan pupuk digranulasi dengan mesin ditambah dengan biochar dan tapioka.

Kandungan Pupuk Organik

Pupuk organik yang dikembangkan tim peneliti ini telah melalui pengujian laboratorium. Hasil uji menunjukkan kandungan nitrogen 2,8 persen, kemudian fosfor 1,1 persen, dan kalium 3,56 persen. Nilai kandungan tiga unsur tersebut dinilai memadai untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus memperbaiki kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Mengapa Agrosilvopastura Penting?

Agrosilvopastura tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjaga fungsi ekologis kawasan hutan. Keberlanjutan pertanian harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan sambil menjaga aset ekologi hutan. Inovasi ini merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular di sektor pertanian. Limbah peternakan dan limbah perkebunan tidak lagi dipandang sebagai masalah lingkungan, tetapi menjadi sumber daya yang dapat diolah menjadi pupuk organik berkualitas.

Dampak dan Arah ke Depan

Dengan tambahan biochar, pupuk memiliki kemampuan lebih baik dalam memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, dan mengurangi kehilangan unsur hara. Kegiatan pengabdian ini juga diisi dengan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan Kalimantan. Tim dosen pun mengajarkan Kelompok Tani untuk beralih ke digitalisasi sebagai media untuk mendapatkan informasi yang cepat serta pemasaran produk pertanian untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Ke depannya, diharapkan inovasi ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara luas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://tekno.tempo.co/read/2110846/tim-dosen-di-lamandau-ajari-petani-praktik-agrosilvopastura, without altering the facts of the original article.

Tags:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *