29 Juni 2026 Internasional 0 Views

Rencana Deorbit ISS ke Laut Tuai Kritik, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Rencana Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA untuk mengakhiri operasional Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dengan menjatuhkannya ke Samudra Pasifik menuai kritik dari kalangan pemerhati lingkungan laut. Organisasi konservasi Ocean Foundation menilai rencana tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang belum sepenuhnya dipahami terhadap ekosistem laut. ISS akan mulai diturunkan orbitnya pada 2028 melalui kombinasi hambatan atmosfer Bumi dan manuver dari segmen Rusia di stasiun tersebut. Selanjutnya, pada pertengahan 2029, wahana U.S. Deorbit Vehicle (USDV) yang dipasok SpaceX akan dipasangkan ke ISS untuk mendorong stasiun itu memasuki atmosfer dan jatuh di kawasan laut terpencil yang dikenal sebagai Point Nemo.

Rencana Deorbit ISS

Menurut laporan U.S. Government Accountability Office (GAO), pada akhir 2030 atau awal 2031, USDV akan melakukan pembakaran untuk mengarahkan ISS masuk kembali ke atmosfer dan jatuh ke lokasi yang telah ditentukan di Samudra Pasifik. NASA memperkirakan sebagian ISS dan wahana deorbit akan pecah dan jatuh ke bagian samudra yang terpencil untuk meminimalkan risiko terhadap wilayah berpenduduk.

Kekhawatiran Lingkungan

Presiden Ocean Foundation Mark Spalding menilai rencana tersebut menyoroti celah dalam hukum internasional terkait pembuangan puing antariksa ke laut. Menurut dia, perlindungan hukum yang berlaku saat puing antariksa jatuh di wilayah suatu negara tidak berlaku untuk laut lepas. Terdapat kesenjangan struktural yang mengkhawatirkan dalam hukum internasional yang menjadi sangat jelas melalui rencana deorbit ISS ini.

Spalding menjelaskan bahwa negara peluncur wajib memberikan kompensasi jika puing antariksa merusak wilayah atau properti negara lain. Namun, mekanisme serupa tidak tersedia untuk dampak yang mungkin terjadi di lautan. Akibatnya, ketika badan antariksa memiliki kendali atas lokasi jatuhnya puing-puing, mereka memilih laut lepas, dan dengan melakukan itu mereka tidak memiliki kewajiban hukum untuk membayar biaya pembersihan atau pemulihan lingkungan.

Dampak pada Lingkungan Laut

Spalding juga mempertanyakan dampak puing-puing ISS terhadap kehidupan laut dan ekosistem dasar samudra. Menurutnya, belum ada kepastian mengenai konsekuensi lingkungan dari jatuhnya struktur sebesar ISS. Jawaban yang jujur adalah, kita belum benar-benar mengetahuinya. Itu sangat mengkhawatirkan untuk sebuah struktur seukuran lapangan sepak bola. Kita tahu bahwa tidak semua bagian akan terbakar saat masuk kembali ke atmosfer. Komponen yang lebih padat akan bertahan dan mencapai dasar laut.

Apa Artinya Ini bagi Lingkungan?

Keterpencilan laut dari infrastruktur manusia tidak boleh dianggap sebagai tanda bahwa wilayah tersebut tidak bernilai atau tidak rentan. Laut dan makhluk yang hidup di dalamnya layak mendapatkan perlindungan yang sama seperti yang diberikan hukum internasional kepada wilayah negara. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak lingkungan dari jatuhnya ISS ke laut.

Dengan demikian, rencana deorbit ISS ke laut memang perlu dipertimbangkan lebih lanjut dan tidak boleh dianggap sebagai solusi yang mudah. Perlunya penelitian lebih lanjut dan diskusi internasional untuk memahami dampak lingkungan dan mencari solusi yang lebih baik.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://tekno.tempo.co/read/2110508/rencana-deorbit-iss-ke-laut-tuai-kritik-pemerhati-lingkungan, without altering the facts of the original article.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *