KTT NATO Berakhir, Trump Tangan Kosong karena ‘Dijauhi’ Sekutu
KTT NATO yang digelar di Brussel, Belgia, berakhir dengan ketidakpastian terkait komitmen aliansi untuk membantu Amerika Serikat (AS) mengatasi konflik dengan Iran. Presiden AS, Donald Trump, meninggalkan pertemuan puncak pada Rabu (8/7) tanpa pengumuman komitmen aliansi untuk membantu mengatasi konflik Timur Tengah tersebut. Trump sebelumnya telah melontarkan kata-kata keras terhadap keengganan negara-negara sekutu untuk terlibat dalam konflik Iran.
Kritik Pedas Trump terhadap NATO
Trump telah menjadi sasaran kritik pedas terhadap NATO, terutama terkait pengeluaran pertahanan mereka. Selama dua hari berada di Ankara, Turki, Trump memberi sinyal akan keresahannya terhadap aliansi dengan melontarkan kata-kata keras terhadap keengganan negara-negara sekutu untuk terlibat dalam konflik Iran. “Saya tidak senang dengan NATO, karena mereka tidak mau membantu kami menghadapi negara sponsor teror nomor satu, yaitu Iran,” kata Trump saat tampil bersama pemimpin NATO Mark Rutte.
Momen Penentu di Menit Akhir
NATO telah menjadi sasaran kritik pedas Trump buntut keengganan mereka membantu AS melawan Iran. Blok pertahanan ini juga menjadi bulan-bulanan Trump di masa jabatannya yang pertama karena kurangnya pengeluaran pertahanan mereka untuk NATO. Trump berulang kali mengatakan AS sebenarnya tidak membutuhkan bantuan apa pun dari NATO. Permintaannya terkait Iran, klaimnya, dilakukan sebagai ujian loyalitas. “Saya benar-benar sedang menguji, saya ingin melihat apakah mereka akan hadir atau tidak,” kata Trump pada Rabu (8/7) bersama Rutte.
Apa Artinya Ini bagi NATO ke Depan?
Para pemimpin NATO, terutama Rutte, telah mencoba menenangkan Trump dengan memuji-muji sang Presiden dan Amerika Serikat. AS merupakan anggota paling kuat dalam aliansi tersebut. Dukungan berkelanjutan AS sangat penting bagi kekuatan blok, terutama dalam hal efektivitas Pasal 5. Pasal ini berisi komitmen bahwa serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Ketika Trump ditanya wartawan mengenai kesediaan AS membantu negara-negara Eropa jika diserang, ia memberikan jawaban tak langsung. “Mereka tidak membantu kami. Kami tidak butuh bantuan, tetapi seandainya kami ingin bantuan (seharusnya mereka membantu),” kata Trump.
Para kepala negara Eropa secara terbuka menyampaikan kata-kata sopan bahkan ketika Trump mengeluh tentang mereka. Para pemimpin Eropa juga mengatakan kepada CNBC bahwa mereka memandang ancaman Trump tentang penarikan pasukan sebagai ancaman kosong. Presiden Polandia Karol Nawrocki mengatakan kepada CNBC bahwa “Saya yakin tentara Amerika di Polandia akan tetap tinggal … bersama dengan tentara Polandia, kita akan mengamankan Eropa tengah-timur dan perbatasan NATO.” “Presiden Trump adalah teman baik Republik Polandia. Kami memiliki hampir 10.000 tentara Amerika di Polandia. Kami ingin mendirikan kamp permanen untuk tentara Amerika di Polandia,” lanjutnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre juga mengaku tak melihat potensi Trump benar-benar ingin menarik pasukan dari Eropa. “Saya tidak merasa AS akan menarik semua pasukannya dari Eropa,” ucapnya. Menurut pakar geopolitik, semestinya Trump mengambil pendekatan yang lebih baik terhadap NATO, sebab aliansi tersebut dapat sangat menguntungkan AS dalam perang terbarunya melawan Iran. “Saya pikir presiden akan mendapat manfaat jika mencoba meminta para pemimpin di Eropa dan Teluk Persia untuk memberikan dampak negatif pada perekonomian Iran,” kata profesor Universitas Harvard sekaligus mantan duta besar AS untuk NATO, Nicholas Burns.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260709081731-134-1378584/trump-pulang-tangan-kosong-usai-dijauhi-sekutu-di-ktt-nato, without altering the facts of the original article.