Indra Lesmana Bawa Nostalgia 40 Tahun ke Panggung Sydney Reunion
Indra Lesmana kembali membawa nostalgia 40 tahun ke panggung Sydney Reunion. Konser yang digelar di DeHeng House, Kemang, pada Selasa malam (30/6) itu membuktikan bahwa jarak dan waktu tidak pernah bisa melunturkan “spirit” bermusik. Indra Lesmana Sydney Reunion adalah sebuah peristiwa cultural exchange yang luar biasa antara Indonesia dan Australia.
Momen Penentu di Panggung Sydney Reunion
Konser dibuka oleh Alonzo Brata, seorang penyanyi jazz muda yang tampil cukup mencuri perhatian dengan lagu orisinalnya tentang sang Ibunda, yakni Mariam Kartikatresni, Chairperson Indonesia Australia Business Council. Setelah beberapa sambutan formal, giliran menu utama yang disajikan. Dibuka dengan komposisi bertajuk Fairlight, grup ini langsung mengguncang DeHeng House. Malam itu, ruang konser berkapasitas sekitar 400-an orang tersebut memang tidak terisi penuh. Walau demikian, atmosfer yang ditawarkan terus membawa penonton dalam suasana musikal yang sangat atraktif.
Di atas panggung, Indra Lesmana kembali berdiri berdampingan dengan para maestro Australia: Dale Barlow, Steve Hunter, dan Andy Gander. Bagi pencinta jazz tanah air, kolaborasi ini bukan sekadar panggung hiburan biasa, melainkan sebuah reuni emosional. Kilas balik ke masa remaja Indra Lesmana, sang ayah, legenda jazz Jack Lesmana, yang memboyongnya ke Australia untuk menimba ilmu. Di Sydney-lah Indra remaja berusia 15 tahun saat itu bertemu dengan musisi-musisi lokal bertalenta, berkolaborasi, hingga menelurkan beberapa album rekaman monumental.
Tiga Fakta yang Bikin Laga Ini Berbeda
Kini, lebih dari 40 tahun kemudian, mereka kembali berkumpul di bawah satu lampu sorot yang sama. “Spirit-nya masih tetap sama,” ungkap Indra Lesmana hangat dalam pengantarnya di atas panggung, disambut tepuk tangan riuh penonton. Rekaman dan reuni ini menjadi bukti sahih bahwa chemistry mereka tidak pernah menua. Total ada 10 karya yang dibawakan malam itu, termasuk sebuah komposisi unik berjudul Pelogic â sebuah eksplorasi jazz memukau yang dimainkan dalam tangga nada tradisional pelog.
Penonton bisa melihat bagaimana jari jemari Indra Lesmana demikian gesit bergantian dari grand acoustic piano dan synthesizer Nord nya, lalu Steve Hunter yang permainan bassnya mengingatkan publik pada Jaco Pastorius, serta hentakan drum Andy Gander yang mengawal ketat ritme namun juga memberikan ruang lebih leluasa berekspresi bagi instrumen lainnya. Serta tiupan saxophone dan flute Dale Barlow yang seakan menetralkan hingar bingar rhythm section pada malam itu.
Apa Artinya Ini bagi Musik Jazz Indonesia?
Kisah di balik instrumen malam itu dipenuhi momen-momen organik yang emosional. Salah satunya saat Dale Barlow (saksofon/flute) berterus terang di mikrofon bahwa flute yang ia gunakan malam itu agak rusak pada bagian salah satu valve â nya, sehingga tidak bisa menjangkau nada tinggi. Menanggapi hal itu dengan santai, Indra Lesmana justru berseloroh, “Baiklah, kita mainkan lagu berikut dengan flute yang rusak.” Uniknya, pada versi rekaman asli, lagu tersebut sama sekali tidak menggunakan instrumen flute. Spontanitas inilah yang membuat pertunjukan langsung menjadi begitu mahal.
Konser Indra Lesmana Sydney Reunion membuktikan bahwa musik jazz masih memiliki tempat yang spesial di hati masyarakat. Kolaborasi antara musisi Indonesia dan Australia ini menjadi bukti bahwa musik dapat menjadi bahasa universal yang dapat mempersatukan orang-orang dari berbagai latar belakang. Dengan demikian, musik jazz dapat terus berkembang dan menjadi bagian penting dari budaya Indonesia.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kedekatan dan keakraban antara Indra Lesmana dan para maestro Australia ini menjadi bukti bahwa musik dapat menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang dari berbagai negara. Konser ini juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan musik jazz di Indonesia. Dengan adanya kolaborasi seperti ini, musik jazz Indonesia dapat terus berkembang dan menjadi bagian penting dari budaya Indonesia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://wartajazz.com/news/2026/07/01/mengulang-memorabilia-40-tahun-silam-catatan-dari-konser-indra-lesmana-sydney-reunion-di-deheng-house/, without altering the facts of the original article.