Cegah Kerusakan Otak Akibat Stroke, Terapi Brain Freeze Jadi Solusi Inovatif
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terapi “brain freeze” atau kombinasi dua obat, chlorpromazine dan promethazine, berpotensi memperlambat kerusakan otak akibat stroke. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine dan memberikan harapan baru bagi pasien stroke. Stroke iskemik akut, yaitu jenis stroke yang terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat, merupakan bentuk stroke paling umum dan mencakup lebih dari 85 persen dari seluruh kasus. Terapi ini bekerja dengan memicu kondisi menyerupai hipotermia yang dapat melindungi jaringan otak.
Mekanisme Terapi Brain Freeze
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menggunakan dua obat yang telah lama tersedia, yakni antipsikotik chlorpromazine dan obat penenang promethazine, yang dikombinasikan sebagai terapi C+P. Pada uji praklinis, kombinasi tersebut mampu memicu kondisi mirip hipotermia sekaligus melindungi jaringan otak pada tikus dan monyet yang mengalami stroke. Peneliti juga menguji keamanan terapi tersebut pada 32 pasien stroke. Hasilnya, infus C+P tidak menimbulkan efek samping yang berarti.
Proses Penelitian dan Hasilnya
Peneliti membandingkan terapi C+P dengan dua metode lain untuk menurunkan suhu tubuh pada tikus, yakni menggunakan obat adenosine 5â-monophosphate dan pendinginan dengan air dingin serta kantong es. Ketiganya sama-sama menurunkan suhu tubuh, tetapi hanya C+P yang terbukti menekan konsumsi oksigen dan pengeluaran energi, yang menjadi indikator perlambatan metabolisme. Menurut profesor fisiologi dan ilmu saraf, neurologi, serta bedah saraf di University of Southern California Keck School of Medicine, Dr. Patrick Lyden, perlambatan metabolisme menjadi salah satu alasan mengapa hipotermia dapat melindungi otak.
MENGAPA & DAMPAK
Mengapa Terapi Brain Freeze Penting?
Stroke iskemik akut merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan cepat dan efektif. Selama ini, hipotermia terapeutik diketahui dapat membantu melindungi otak, terutama setelah henti jantung maupun pada bayi yang mengalami kekurangan suplai darah dan oksigen ke otak saat lahir. Namun, penerapannya pada pasien stroke dewasa belum memberikan hasil yang konsisten. Oleh karena itu, terapi brain freeze menawarkan pendekatan baru yang berpotensi membantu pasien stroke.
Dampak bagi Pasien Stroke
Terapi brain freeze berpotensi memperlambat kerusakan otak akibat stroke, sehingga memberikan pasien kesempatan yang lebih baik untuk pulih. Dengan demikian, terapi ini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien stroke dan mengurangi beban pada sistem kesehatan. Namun, peneliti menekankan bahwa uji klinis lanjutan masih diperlukan untuk memastikan apakah terapi C+P benar-benar memberikan efek perlindungan terhadap otak pada pasien stroke.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Meski terapi brain freeze menunjukkan hasil yang menjanjikan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Peneliti harus melakukan uji klinis lanjutan untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi ini pada pasien stroke. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme kerja terapi ini dan mengoptimalkan penggunaannya. Dengan kerja sama dan penelitian yang terus-menerus, diharapkan terapi brain freeze dapat menjadi solusi yang efektif bagi pasien stroke di masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://tekno.tempo.co/read/2110915/terapi-brain-freeze-untuk-melindungi-otak-setelah-stroke, without altering the facts of the original article.