Macron Kunjungi Suriah, Akankah Membawa Perubahan 18 Bulan Setelah Kejatuhan Assad?
Presiden Perancis, Emmanuel Macron, melakukan kunjungan ke Suriah pada Senin malam, menjadi kepala negara Barat pertama yang mengunjungi negara tersebut sejak rezim baru mengambil alih kekuasaan pada Desember 2024. Macron disambut oleh Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, di bandara. Kunjungan ini diharapkan dapat membawa perubahan signifikan bagi Suriah, 18 bulan setelah kejatuhan Bashar al-Assad.
Kunjungan Bersejarah
Macron tiba di Damaskus pada Senin malam, dalam kunjungan yang dianggap sebagai langkah penting dalam proses pemulihan kehadiran internasional Suriah. Dalam pernyataan online, Macron menulis bahwa dia datang untuk mengungkapkan komitmen Perancis terhadap rakyat Suriah, dengan harapan Suriah yang berdaulat, bersatu dalam keanekaragaman, dan damai dengan tetangganya. “Bersama-sama, mari kita buka babak baru stabilitas dan perdamaian,” tulisnya.
Sebelumnya, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, juga telah mengunjungi Damaskus. Presiden Ahmed al-Sharaa, yang mengambil alih kekuasaan dari Assad setelah lebih dari satu dekade perang saudara, telah berusaha untuk memulihkan kredibilitas internasional Suriah dan menghidupkan kembali hubungan dengan negara-negara lain.
Momen Penentu di Tengah Ketidakpastian
Kunjungan Macron terjadi di tengah situasi keamanan yang masih tegang di Suriah, lebih dari 18 bulan setelah kejatuhan Assad. Sebuah ledakan bom di sebuah kafe di Damaskus minggu lalu menewaskan 10 orang, dan berbagai serangan terhadap minoritas agama di negara tersebut telah dikaitkan dengan militan Islamic State. Hubungan antara pemerintah Suriah dan pasukan Kurdi di utara dan timur juga masih sulit.
Macron diharapkan akan membahas isu-isu tersebut dengan al-Sharaa, serta masalah keamanan dan investasi. Beberapa pelaku bisnis utama Perancis, termasuk CEO CMA CGM, Rodolphe Saade, dan CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanne, turut serta dalam kunjungan tersebut. Upaya rekonstruksi dan keamanan investasi diperkirakan akan menjadi topik pembicaraan.
Apa Artinya Ini bagi Suriah ke Depan?
Kunjungan Macron dapat menjadi titik balik penting bagi Suriah, terutama dalam upaya memulihkan hubungan dengan negara-negara Barat. Macron juga diharapkan akan menekankan pentingnya perlindungan minoritas di Suriah, serta melanjutkan perjuangan melawan Islamic State. Dengan kunjungan ini, Macron juga akan mengembalikan 23 artefak arkeologi yang dipinjamkan ke Institut Dunia Arab di Paris pada 2010.
Kunjungan ini juga dapat membuka peluang bagi kerja sama ekonomi dan politik antara Suriah dan Perancis. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal keamanan dan stabilitas di negara tersebut.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kunjungan Emmanuel Macron ke Suriah menandai langkah awal dalam proses panjang pemulihan dan rekonsiliasi di negara tersebut. Dengan komitmen Perancis terhadap rakyat Suriah dan harapan akan stabilitas dan perdamaian, kunjungan ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi Suriah ke depan. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam hal keamanan, investasi, dan perlindungan minoritas.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://en.tempo.co/read/2112231/emmanuel-macron-visits-syria-18-months-after-assads-fall, without altering the facts of the original article.